Merdeka? Agustus kembali datang. Bendera merah putih memenuhi jalan. Gapura dicat ulang. Lomba digelar dari pagi sampai malam. Nasionalisme seolah sedang berada pada musim terbaiknya.
Namun setelah lomba selesai dan bendera diturunkan, ada pertanyaan yang lebih penting, seberapa peduli kita terhadap Indonesia yang sedang kita rayakan?
Delapan puluh satu tahun lalu, kemerdekaan bukan sekadar perayaan. Bagi generasi muda pada masa perjuangan, masa depan bangsa adalah urusan yang terlalu penting untuk diserahkan kepada orang lain. Mereka berdiskusi, berorganisasi, berdebat, bahkan mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan. Peristiwa menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945 menunjukkan bahwa pemuda bukan sekadar penonton sejarah.
Tentu tidak semua pemuda masa itu adalah pejuang. Sama seperti tidak semua pemuda hari ini apatis. Membandingkan keduanya bukan untuk mengagungkan masa lalu dan menghukum masa kini. Perbandingan itu hanya sebuah cermin.
Ironinya, pemuda hari ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki generasi awal republik, akses informasi yang nyaris tanpa batas. Berita ekonomi tersedia dalam hitungan detik. Perdebatan politik dapat disaksikan melalui smartphone. Persoalan hukum, ketimpangan sosial, pengangguran, biaya hidup hingga kebijakan pemerintah mudah ditemukan.
Tetapi kemudahan mengetahui tidak selalu melahirkan kemauan untuk peduli.
Pembicaraan tentang ekonomi dianggap terlalu rumit. Politik disebut kotor, sehingga lebih baik dijauhi. Masalah hukum dianggap urusan aparat. Ketimpangan sosial terasa jauh selama belum mengetuk pintu rumah sendiri. Kita bisa berdebat panjang tentang pertandingan sepak bola atau tren terbaru, tetapi mendadak kehabisan tenaga ketika percakapan menyentuh keadaan bangsa dan kondisi sosial.
Barangkali inilah bentuk kemerdekaan yang paling aneh, bebas mendapatkan informasi tetapi memilih tidak ingin tahu.
Padahal peduli kepada bangsa tidak berarti setiap pemuda harus turun ke jalan atau masuk partai politik. Kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana. Membaca sebelum berpendapat, memeriksa kebijakan pemerintah, berani mempertanyakan ketidakadilan, berdiskusi tanpa fanatisme, memahami persoalan ekonomi yang memengaruhi kehidupan sehari-hari atau bahkan mengawasi kekuasaan dan mengambil peran di lingkungan sendiri.
Kemerdekaan tidak hanya diwariskan untuk dirayakan. Ia juga membawa tanggung jawab.
17 Agustus, kita tentu boleh memasang bendera, mengikuti lomba dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada republik ini. Tetapi setelah semua seremoni selesai, pemuda perlu menanyakan sesuatu kepada dirinya sendiri, apakah kita benar-benar mencintai Indonesia atau sekadar menikmati hari liburnya?
Mungkin semangat kemerdekaan hari ini tidak membutuhkan bambu runcing. Ia membutuhkan generasi yang tidak memilih masa bodoh.
*) Oleh : Nabil Praditya, Kabid Hukum Aksi & Advokasi HMP Ilmu Hukum Institut Cokroaminoto Pinrang
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi justra.id










Merdeka’