Justra.id PINRANG — Kesederhanaan seorang pemimpin kembali terlihat dari sosok Lurah Bentengnge, Kabupaten Pinrang, yang memilih duduk bersama para petani di pinggir sawah tanpa jarak dan tanpa sekat.
Di tengah aktivitas masyarakat mengelola lahan pertanian, sang lurah terlihat berbaur dan berbincang langsung dengan para petani. Tidak ada kursi khusus, tidak ada jarak, dan tidak terlihat perbedaan status sosial. Semuanya duduk bersama menikmati suasana persawahan sembari membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan dan aktivitas para petani.
Momen sederhana tersebut menjadi gambaran bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu berada di balik meja atau ruang kantor. Kehadiran langsung di tengah masyarakat menjadi bentuk kepedulian sekaligus cara untuk mendengar berbagai keluhan dan aspirasi warga secara lebih dekat.
Sikap tersebut juga mendapat apresiasi dari masyarakat. Bagi para petani, kehadiran lurah di tengah mereka memberikan kesan bahwa pemerintah benar-benar hadir dan tidak membatasi diri dengan masyarakat yang dipimpinnya.
Di pinggir sawah itu, tidak ada istilah pejabat dan rakyat, tidak ada batas kasta maupun status. Yang terlihat hanyalah kebersamaan antara pemimpin dan masyarakat yang sama-sama berbicara, berdiskusi, dan menikmati suasana sederhana.
Kesederhanaan tersebut menjadi pesan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang bagaimana seorang pemimpin mampu menempatkan dirinya di tengah masyarakat, mendengar suara warga, serta membangun hubungan yang humanis tanpa sekat.
“Duduk bersama masyarakat di pinggir sawah mungkin terlihat sederhana, tetapi dari kesederhanaan itulah kedekatan dan kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat dapat tumbuh.” ujar Rachmat Achmad, S.E.








